a:hover { color: #000fff; text-transform: uppercase; font-weight: bolder; font-size: 15px; background-image: url(http://i909.photobucket.com/albums/ac297/heryymanjala/th_stars1.gif); }

Laman

Klik!!!

Kamis, 07 Maret 2013

PERTEMPURAN DI BENTENG TOSORA



Pada  tahun 1670 La Tenri Tatta Petta Malampe Gemmena Arung Palakka  Raja Bone bersama pasukanya dan diantu oleh Belada men yerang Benteng Tosora. Pasukan Kerajaan Wajo yang dipimpin Lait To Sengngeng melakukan perlawanan. Pertempuran yang sangat sengit itu berlangsung selama empat hari empat mala, dan ketika itu sangat bayak pasukan Kerjaan Wajo yang tewas. Melihat kenyataan itu aka pasukan Kerjaan Wajo meminta gencatan senjata.
Apalagi Arung Matoa Wajo La Tenri Lait To Sengngeng ikut pula gugur, sebab senjata  meriam yang menjadi senjata andalam Pasukan Kerajaan Wajo  meledak di dalam benteng Tosora. Makanya  La Tenri Lait To Sengngeng Arung Matoa Wajo diberi Gelar sebagai Petta Matinro Ri Salekkona yang mempunyai arti sebagai Raja yang meninggal di dalam pertempurannya. Kemudian digantikan oleh La Palili To Malu Puanna Gelle saudara Ranreng Bentengpola To Palettei untuk melanjutkan peperangan melawan pasukan Kerajaan Bone dan VOC Belanda. 

 
Tidak bisa bertahan lama menahan gempuran Pasuka Arung Palakka yang mengepung Benteng  Tosora. Waktu berjalan dengan cepat, pertahanan Pasukan Kerajaan Wajo makin hari  makin lemah di dalam pengepungan, akhirnya Pasukan Kerajaan Wajo menyerah. Paa tanggal 23 Desember 1670,  Arung Matoa Wajo bersama La Padapi Cakkuridi Wajo, La Pangambong Patola Wajo dan La Kitabaja Villa Wajo selaku delegasi pemerintahan Kerajaan Wajo berangkat ke Makassar  untuk  menandatangani sebuah perjanjian di dalam Benteng Fort Rotterdam (Benteng Ujungpandang) antara pihak Belanda dengan Kerajaan Wajo dan ketika itu turut hadir Raja Bone Arung Palakka La Tenri Tatta dan beberapa Raja-Raja yang merupakan  sekutu dari Belanda.
 Setelah penyerangan di Benteng Tosora, banyak dampak yang ditim bulkan oleh perang tersebut dan berakibat buruk bagi kehidupan rakyat Wajo. Sektor pertanian dan perdagangan sangat mengalami kemunduran dan  makin banyak pula  rakya yang menderita serta berpindah ke daerah lain. Apalagi Kerajaan Wajo diharuskan tunduk dan setia pada Kerjaa Bone dan VOC Belana. Tidak diperbolehkan lagi melakukan hubungan perdagangan dengan daerah-daerah lain kecuali dengan VOC Belanda. Kemudian dilarang pula mendirikan Benteng-Benteng pertahankan.
Setelah  Arung Matoa Wajo mengundurkan diri, maka ia digantikan oleh La Paruwusi Daeng Mayampak Arung Amali sebagai Arung Matoa Wajo ke -25. di dalam kepemimpinannya,  Arung Matoa Wajo berlagak seperti Raja Bone. Memakai Payung Kerajaan dan juga selalu dibunyikan Genrang Tellu (Gendang Tiga) bersama Arung Ennengnge. La Pariwusi ini  menjadi Arung Matoa selama dua puluh tahun (sekitar tahun 1679 -1699) dan  yang  menggantikannya adalah La Tenri Sessuk To Timo   sebagai  Arung Matoa   ke-26.
La Tenri Sessuk iniliah yang menyuruh  rakyat dan Raja-Raja untuk membeli senapan di Pulau Jawa dan daerah  Sumatera  untuk memperkuat k embali pertahanan Kerajaan Wajo. Setelah La Tenri Sessuk To Timo mengundurkan diri sebagai Arung  Matoa Wajo, maka digantikan oleh LA Mattone To Sakke Daeng Paguling, beliau meneruskan usaha-usaha dari pendahulunya. Yakni tetap melakukan pembelian-pembelian senjata api dan memperbaiki bangungan-bangunan yang telah  rusak dahulu  akibat peperangan.
La Galigo  To Sunia diangkat sebagai Arung Matoa Wajo ke 28  menggantikan La Mattone To Sakke. Semasa pemerintahanny banyak rakyat Wajo mengalami perlakuan yang sewenang-wenang  dari orang Bone, sehingga banyak pula orang Bone yang dibunuh oleh orang Wajo. Maka pihak Raja Bone La Patauk Mattana Tikka keluarkan Perintah melarang orang-orang Wajo untuk tidak memakai senjata tajam. La Galigo To Sunia yang memerintah Kerajaan Wajo selama sembilan tahun lamanya. Setelah mangkat ia diberi gelar sebagai Raja Mellengngi Masagina yang berarti Raja yang meninggal  masjidnya.
Kemudian diangkatlah La Tenri Werung  Arung Peneki  sebagai Arung  Mato Wajo Ke 29. beliau inilah yang meneruskan usaha-usaha La Galigo To Sunia terutama persenjetaan Kerajaan Wajo. Ha inilah yang membuat Rajat Bone La Patauk Matana Tikkak  bertambah marah kepada Wajo, sehingga ia  melarang orang wajo  berjalan di daerah Cenrana dengan memakai senjata  tajam seperti  parang dan badik.
 Masa pemerintahan La Tenri Werung  Puanna La Sangaji Arung Peneki ini hanya berlangsung kurang lebih  tiga tahun lamanya dari tahun 1712-1715. beliau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Arung Matoa  dan pergi ke daerah Bila yang  masuk wilayah Tancung. Tinggallah ia di sana sampai  meninggal dunia. 

Tidak ada komentar: