Lamaddukelleng
diperkirakan lahir pada tahun 1700 di daerah Peneki dan menghabiskan masa
kanak-kanaknya di kampung kelahirannya. La Maddukelleng memasuki masa akil baliq ia pun
disunat secara Islam oleh orang tuanya La Matatikkak To Addatia (Arung
Peneki) pada tahun 1713. meskipun La Maddukelleng seorang anak bangsawan, di
kalangan anak remaja sebayanya mempunyai
kepribadian yang sama seperti anak-anak lainnya. Ia bergaual dan tumbuh bersama
ia dicintai dan dipuji perangnya oleh rakyat karena La Maddukelleng
senantiasa menumbuhkan rasa
simpatik dari rakyat di sekelilingnya.
Dengan
melihat silsilah yang ditulis dalam
Lontara, sangat jelas bahwa di tubuh La Maddukelleng mengalir darah biru. Ia merupakan seorang bangsawan tinggi dan merupakan keturunan langsung dari La Tenri Bali-Batara
Wajo. Hasil perkwinannya itu
lahirlah La Tompi Wanua – Arung Sailong yang kemudian kawin dengan We Tenri Lawi , saudara La Tenri Ampa Arung
Palakka. Dari perkawinanya lahirlah La Tadampare Puang ri Maggalatung Arung
Matoa Wajo 4 lalu kawin dengan we Pegeri Arung Cabalu maka lahirlah dua orang
anaknya masing-masing la Pakoko To Nampe
Arung Mato Wajo 5 dan
Lamaddukelleng Arung Peneki 1 yang
kemudian mempersunting We Mappaolo Bombang.
Dari hasil
perkawinan La Maddaremmeng Arung Peneki
dengan We Mappaolo Bombang, lahirlah anaknya yang bernama La Paturrusi
Arung Peneki 2 dan kawin dengan We Tasi,
melahirkan anak yang bernama La Sangkuru
Arung Paneki 3 dan Arung Matoa Wajo 12. Lalu kawin lagi dengan We Tenri Pada
anak Lamungkace To Uddama Arung Matoa
Wajo ke 11, maka lahirlah anak bernama La Tenri Gara-Arung Paneki kawin
dengan Batari Toja Arung Menge
Ranreng Talottenreng maka
lahirlah La Matatikkan To Addatia- Arung
Peneki yang mempersunting We Tenri Angka – Arung Singkang. Dari hasil perkawinan ini kemudian
melahirkan seorang anak lelaki yang bernama La Maddukelleng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar