Assalamu alaikum...
Renungkan sodara sodarikuu.
Bersama bunda di sebuah toko baju, dalam ruang
ganti pakaian kumelihat bagaimana bunda sedang mencoba pakaian dengan susah payah tuk mencoba
mengikat tali blus yang ada dibelakang.
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan
oleh penyakit radang sendi
dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya,
seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh
suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan
air mata yang keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya
kembali masuk ke kamar ganti untuk
mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini
begitu indah, dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi
kejadian tersebut terukir
dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya.
Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap
saja kembali pada saat berada
di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan
terbayang tangan ibu saya yang sedang
berusaha mengikat tali blusnya.
Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang
pernah menyuapi saya, memandikan saya,
memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan
terlebih dari semuanya,
berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah
menyentuh hati saya dengan
cara yang paling membekas dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar
ibu saya,
mengambil tangannya, menciumnya ... dan yang
membuatnya terkejut,
memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan
tersebut
adalah tangan yang paling indah di dunia ini.
Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat
saya dapat melihat dengan mata baru,
betapa bernilai dan berharganya kasih sayang
yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.
Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak
tangan saya
dan hati saya akan memiliki keindahannya
tersendiri.
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala
ciptaan Tuhan yang begitu agung,
tetapi tak satu pun yang dapat menandingi
keindahan tangan Ibu...
Tangan Ibu telah
bertahun-tahun menjelma menjadi perawat untuk
penyakit batuk, demam,
flu, cacar, ataupun sekedar luka di kaki akibat terjatuh.
Kuteringat sebuah hadis
ketika seorang sahabat Nabi ber-thawaf mengeliling Ka'bah
sambil menggendong ibunya
yang sudah sepuh, ia bertanya pada Rasul yang mulia,
"Sudahkah terbayar
lunas semua jerih payah ibuku?"
Rasul yang mulia menjawab,
"Tidak!, bahkan untuk
menandingi rasa sakitnya saat melahirkan engkau pun tidak terbayar!"
Dalam bahasa lain,
andaikan, sekali lagi, andaikan saja kita mempunyai gunung emas
yang kemudian kita berikan
semuanya berikut seluruh perbendaharaan harta anda yang lain
untuk mengganti semua yang
telah dilakukan oleh seorang ibu,
niscaya itu semua belum
mampu membayar satu malam saja saat-saat ibu mengasuh kita.
Tidak pernah ada kata
"cukup", "lunas", "terbayar" untuk membalas cinta
seorang ibu.
Sepatutnyakah bunda
tinggal di rumah kecil dan bocor disana-sini,
sementara kita tinggal di
tempat yang nyaman ?
Sepatutnyakah kita
menikmati makan siang yang lezat dan penuh gizi sementara
bunda hanya memakan
seadanya ?
Sepatutnyakah kita menghitung
biaya sekolah anak dan karena itu menghindar
membelikan obat bagi bunda
yang tengah sakit ?
Sepatutnyakah kita
berperjalanan dengan sangat nyaman dalam mobil mewah,
sementara bunda naik
kendaraan umum yang penuh sesak ?
Sepatutnyakah kita berpiknik
atau jalan-jalan dengan isteri / suami
namun selalu saja punya
alasan untuk tidak mengunjungi atau bersilaturahmi ke tempat bunda
(atau berziarah ke
kuburannya bila bunda telah tiada) ?
Jangan gunakan logika kita
untuk berkhidmat pada bunda.
Balas cintanya dengan
cinta kita.
Kenapa?
Karena "Ridha Allah
terletak pada ridha orang tua," begitulah ajaran agama kita.
Ya Rabb, berilah kami
kekuatan tuk tetap selalu berbakti pada orangtua kami.
"Ya Rabb, ampuni dosa
kami dan dosa kedua orang tua kami,
dan sayangilah mereka
sebagaimana mereka telah menyayangi kami sewaktu kecil"
Yakin dan percaya doa ibu menyertai kita semua. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar