Dalam
Desertasi Noorduyn (1995) tercatat bahwa
La Maddukelleng bersama pasukannya berperang,
merebut dan menaklukkan Pasir pada tahun 1726, kemudian
merebut pula Kutai, Pangatan, Banjarmasin
dan daerah sekitarnya. Disebutkan bahwa La Maddukelleng kawin dengan anak
Sultan Pasir yang bernama Andeng Ajang.
Setelah Sultan Sepuh Alamsyah (Sultan Pasir Ayahanda Andeng Ajang) wafat, istri
La Maddukelleng dicalon kan
menjadi Ratu Pasir. Namun, sebagian orang-orang Pasir menolak pencalonan tersebut. Akibat dari
penolakan itu, pasukan La Maddukelleng
menyerang dan menaklukkan Pasir.
Hasil
penaklukan tersebut La Maddukelleng naik tahta menjadi Sultan Pasir serta
memerintahkan pasukannya untuk mengejar orang-orang pasir yang kalah dan
melarikan diri ke daerah Kutai. La Maddukelleng
kepada Sultan Kutai agar menyerahkan pelarian-pelarian Pasir tersebut,
tetapi ikut diserang dan ditaklukkan.
Sebagai
penguasa di daerah Pasir dan Kutai, La Maddukelleng menjadikan wilayah lautnya
sebagai markas untuk mengawasi lalu
lintas kapal VOC yang berlayar di Selat Makassar.
Di tempat iut pula pasukan La Maddukelleng mengawasi bajak laut dari kepulauan Sulu yang sering merompak perahu-perahu dagang antar
pulau. Jiak ditemukan hasil rompakan bajak laut tersebut oleh pasukan La
Maddukelleng, maka dirampas pula barang-barangnya. Demikian juga dengan
kapal-kapal VOC Belanda yang melintas pada malam hari disergap dan
dirampas pula barang dan persenjataannya.
Supaya
perahu-perahu dapat berlayar dan berlabuh di Pasir , maka La Maddukelleng
Sultan Pasir memerintahkan orang-orang Pasir untuk mengali sungai Pasir yang
kemudian galian itu diberi nama Siratte dan sampai sekarang tempat itu disebut
sebagai galian Petta La Maddukelleng.
Gubernur Belanda di
Makassar, Jesus Van Arrewijine dalam memorinya pada tanggal 21 Mei 1733
menyatakan bahwa To Assak, Kapitan Laut pasukan La Maddukelleng menyerang
Banjarmasin tetapi gagal mendudukinya.
La
Maddukelleng Sultan Pasir mengawinkan anaknya yang bernama Aji Idoya hasil
perkawinannya dengan Andeng, dengan
Sultan Muhammad Idris Sultan Kutai ke 14. maka La Maddukelleng Sultan Pasir
makin menguasai daerah Kutai dan Daerah Pasir, sehing akian bertambah kekuatan pasukan
dan persenjataannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar