a:hover { color: #000fff; text-transform: uppercase; font-weight: bolder; font-size: 15px; background-image: url(http://i909.photobucket.com/albums/ac297/heryymanjala/th_stars1.gif); }

Laman

Klik!!!

Kamis, 07 Maret 2013

Menjadi Sultan Pasir


Dalam Desertasi  Noorduyn (1995) tercatat bahwa La Maddukelleng  bersama pasukannya  berperang,  merebut  dan  menaklukkan Pasir pada tahun 1726, kemudian merebut pula Kutai, Pangatan, Banjarmasin dan daerah sekitarnya. Disebutkan bahwa La Maddukelleng kawin dengan anak Sultan  Pasir yang bernama Andeng Ajang. Setelah Sultan Sepuh Alamsyah (Sultan Pasir Ayahanda Andeng Ajang) wafat, istri La Maddukelleng dicalon kan menjadi Ratu Pasir. Namun, sebagian orang-orang Pasir  menolak pencalonan tersebut. Akibat dari penolakan itu, pasukan La Maddukelleng  menyerang dan menaklukkan Pasir.
Hasil penaklukan tersebut La Maddukelleng naik tahta menjadi Sultan Pasir serta memerintahkan pasukannya untuk mengejar orang-orang pasir yang kalah dan melarikan diri ke daerah Kutai. La Maddukelleng  kepada Sultan Kutai agar menyerahkan pelarian-pelarian Pasir tersebut, tetapi ikut diserang  dan ditaklukkan.
Sebagai penguasa di daerah Pasir dan Kutai, La Maddukelleng menjadikan wilayah lautnya sebagai markas  untuk mengawasi lalu lintas kapal VOC yang berlayar di Selat Makassar. Di tempat iut pula pasukan La Maddukelleng mengawasi bajak laut  dari kepulauan Sulu yang  sering merompak perahu-perahu dagang antar pulau. Jiak ditemukan hasil rompakan bajak laut tersebut oleh pasukan La Maddukelleng, maka dirampas pula barang-barangnya. Demikian juga dengan kapal-kapal VOC Belanda yang melintas pada malam hari disergap dan dirampas  pula barang dan persenjataannya.
Supaya perahu-perahu dapat berlayar dan berlabuh di Pasir , maka La Maddukelleng Sultan Pasir memerintahkan orang-orang Pasir untuk mengali sungai Pasir yang kemudian galian itu diberi nama Siratte dan sampai sekarang tempat itu disebut sebagai galian Petta La Maddukelleng.
Gubernur   Belanda di  Makassar, Jesus Van Arrewijine dalam memorinya pada tanggal 21 Mei 1733 menyatakan bahwa To Assak, Kapitan Laut pasukan La Maddukelleng menyerang Banjarmasin tetapi  gagal mendudukinya.
La Maddukelleng Sultan Pasir mengawinkan anaknya yang bernama Aji Idoya hasil perkawinannya  dengan Andeng, dengan Sultan Muhammad Idris Sultan Kutai ke 14. maka La Maddukelleng Sultan Pasir makin menguasai daerah Kutai dan Daerah Pasir, sehing akian bertambah kekuatan pasukan dan persenjataannya. 

Tidak ada komentar: